
PENULIS: KH.ABDUL KARIM NAWAWI

Dalam bahasa Jawa, âpusakaâ (êĤêĤêĤħêĤ) memiliki arti benda-benda yang dianggap keramat atau memiliki kekuatan khusus, seringkali benda-benda tersebut diwariskan dari nenek moyang.
Pusaka tidak hanya sekadar benda, tetapi juga simbol sejarah, budaya, dan spiritualitas masyarakat Jawa. Contoh pusaka yang umum adalah keris, tombak, wayang kulit, dan berbagai benda antik lainnya.
Pusaka adalah kata berbasis bahasa Sansekerta yang berarti harta karun atau pusaka
Peninggalan Berharga:
Pusaka merupakan peninggalan leluhur yang bernilai sejarah, pemikiran, dan kualitas pembuatan.
Warisan Budaya:
Pusaka adalah warisan budaya yang diwariskan secara turun-temurun, dan diyakini memiliki kekuatan dan nilai spiritual.
Simbol Sejarah:
Pusaka seringkali merupakan simbol sejarah dan peristiwa penting dalam kehidupan masyarakat Jawa.
Kekuatan Supranatural:
Beberapa pusaka diyakini memiliki kekuatan supranatural, seperti keris yang diyakini dapat memberikan perlindungan atau keberuntungan bagi pemiliknya.
Perawatan Khusus:
Pusaka memerlukan perawatan khusus, seperti ritual jamasan (membersihkan) untuk menjaga kebersihan dan kekuatan spiritualnya.
PANDANGAN ISLAM TENTANG PUSAKA
Menurut Nahdlatul Ulama (NU), pusaka tidak memiliki kekuatan magis atau spiritual yang melekat pada benda itu sendiri, tetapi lebih pada makna simbolis dan historis, serta sebagai wasilah (alat) untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Pusaka yang dianggap “keramat” oleh masyarakat, seperti keris, lebih merupakan warisan budaya dan simbol kekuatan leluhur, yang bisa dihormati dan dijaga, bukan disembah. NU juga memiliki pusaka “keramat” sendiri, yaitu sami’na wa atha’na (mendengar dan taat) dan tabayyun (klarifikasi), yang dianggap penting untuk memperkuat organisasi.
Beberapa pandangan dari NU tentang Pusaka
–Pusaka Bukan Benda Suci :
NU tidak menganggap pusaka sebagai benda suci yang memiliki kekuatan magis atau dapat memberikan manfaat sendiri.
–Pusaka Sebagai Wasilah :
Pusaka dapat digunakan sebagai wasilah atau alat untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT, misalnya melalui doa atau ritual tertentu.
–Pusaka Sebagai Simbol Budaya :
Pusaka memiliki nilai historis dan simbolis yang penting bagi suatu masyarakat, sebagai warisan dari leluhur dan bukti kekuatan mereka.
–Pusaka NU :
NU memiliki pusaka sendiri, yaitu sami’na wa atha’na dan tabayyun, yang merupakan prinsip-prinsip penting untuk menjaga keutuhan organisasi.
–Penjagaan Pusaka :
Pusaka perlu dijaga dan dilestarikan, bukan disembah atau dipertuhankan. Penjagaan pusaka bertujuan untuk mempertahankan warisan budaya dan nilai-nilai leluhur.
Contoh:
Penjamasan pusaka (ritual pembersihan) bukan berarti menyembah pusaka, tetapi lebih sebagai bentuk penghormatan dan menjaga benda pusaka agar tetap terpelihara.
Dengan demikian, pusaka menurut NU bukan merupakan objek ibadah, tetapi memiliki nilai simbolis dan historis yang perlu dihargai dan dijaga sebagai bagian dari warisan budaya.
PUSAKA PUSAKA DI INDONESIA
Definisi:
Benda pusaka adalah barang yang memiliki nilai sejarah, budaya, atau bahkan mistik yang tinggi, dan diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
- Contoh Benda Pusaka:
- Senjata Tradisional: Keris, rencong, badik, tombak, dan berbagai jenis pedang.
- Benda-benda Kuno: Patung, vas, dan artefak arkeologi lainnya.
- Benda-benda Sakral: Benda-benda yang dianggap memiliki kekuatan spiritual atau keajaiban.
- Nilai dan Fungsi:
- Nilai Sejarah: Pusaka seringkali menjadi saksi bisu sejarah suatu keluarga, kerajaan, atau daerah.
- Nilai Budaya: Pusaka dapat menjadi simbol identitas budaya, adat istiadat, dan nilai-nilai tradisional suatu masyarakat.
- Nilai Mistis: Beberapa pusaka dipercaya memiliki kekuatan spiritual atau keajaiban.
- Fungsi: Pusaka dapat digunakan dalam upacara adat, sebagai perlengkapan, atau sebagai pajangan.
- Contoh Pusaka Legendaris:
- Keris Mpu Gandring: Keris yang diyakini memiliki kekuatan spiritual.
- Keris Setan Kober: Keris yang diyakini sebagai senjata sakti.
- Keris Rakian Naga Batu Handak: Keris yang diyakini memiliki kekuatan spiritual.
- Keris Blambangan: Keris yang diyakini sebagai pusaka kerajaan.
- Keris sebagai Pusaka:
Keris merupakan salah satu pusaka paling terkenal di Indonesia, terutama di Jawa. Keris memiliki bentuk yang unik dan meliuk-liuk, serta dianggap sebagai benda yang sakral dan memiliki aura mistik.
- Pusaka dan Budaya:
Pusaka memiliki peran penting dalam budaya Indonesia, dan menjadi bagian dari identitas dan warisan budaya bangsa
BERIKUT 7 PUSAKA YANG MELEGENDA DI TANAH JAWA
1. Ontokusumo
Benda ini merupakan sebuah kain berbentuk rompi. Konon rompi ini merupakan peninggalan dari Nabi Muhammad yang diwariskan secara turun temurun dan sampailah ke tangan Sunan Kalijaga.
Ontokusumo didapatkan Sunan Kalijaga setelah ia khatam Al Quran pada malam Jumat legi. Saat itu Sunan Kalijaga bersama wali lain tengah berkumpul di Masjid Agung Demak dan tiba-tiba mendapati sepucuk surat yang berisi pesan jika ia akan memperoleh hadiah berupa rompi terbuat dari kulit kambing peninggalan Nabi Muhammad.
2. Keris Kyai Carubuk
Pusaka Sunan Kalijaga ini berupa keris bernama Kyai Carubuk. Keris luk (lekuk) 17 ini dibuat oleh sahabat Sunan Kalijaga bernama oleh Empu Supa Mandagri, seorang Pandebesi kenamaan dari Kerajaan Majapahit.
Saat pembuatannya konon Sunan Kalijaga hanya menyerahkan bahan mentah berupa besi seukuran biji salak. Dengan keterampilan dan kekuatan kanuragan yang dimiliki Empu Supa Mandagri akhirnya keris tersebut dapat rampung digarap.
Kyai Carubuk ini ditempa dengan bara dari sumber api abadi Merapen di Godong, Kabupaten Grobogan, Jateng. Konon Empu Supa Mandagri membuat Kyai Carubuk ini bukan dengan alat pemukul namun hanya menekan-nekan besi menggunakan jari tangannya.
3. Tongkat Kalimasada
Sunan Kalijaga memiliki sebuah tongkat yang selalu setia menemani setiap pengembaraannya. Dari tongkat ini banyak peristiwa di luar nalar terjadi, seperti terciptanya mata air maupun munculnya api dari dalam tanah setelah benda pusaka tersebut ditancapkan ke bumi.
Konon tongkat warna hitam milik Sunan Kalijaga berasal dari kayu Kalimasada. Pohon kayu Kalimasada ini berasal dari Pulau Karimunjawa, Jepara, Jateng.
4. Keris Kanjeng Kyai Ageng Kopek
Keris ini merupakan pusaka utama di lingkungan Kraton Yogyakarta. Pusaka ini hanya dipegang oleh Sultan yang tengah bertahta di Kraton Yogyakarta. Keris Kanjeng Kyai Ageng Kopek ini pralambang Sultan sebagai pemimpin rohani dan duniawi.
5. Keris Kanjeng Kyai Joko Piturun
Pusaka ini berada pada urutan kedua dunia keris di lingkungan Kraton Yogyakarta. Kanjeng Kyai Joko Piturun akan diberikan kepada putera mahkota Kraton Yogyakarta. Disebut-sebut keris ini pernah dimiliki Sunan Kalijaga yang ditempa oleh pande besi kenamaan di Kerajaan Demak.
6. Tombak Kanjeng Kyai Pleret
Kanjeng Kyai Pleret merupakan tombak milik Danang Sutowojoyo atau Panembahan Senopati pendiri Kraton Mataram (sekarang menjadi Kraton Yogyakarta). Konon Kanjeng Kyai Pleret ini merupakan sperma dari Syeh Maulana Maghribi. Saat itu Syeh Maulana Maghribi tak sengaja melihat adik perempuan Sunan Kalijaga, Rasa Wulan yang tengah mandi di Sendang Beji.
Sperma Syeh Maulana Maghribi kemudian menetes ke air sendang hingga akhirnya Rasa Wulan menjadi hamil. Tetesan yang lainnya tiba-tiba mengeras dan kemudian berubah wujud menjadi sebuah mata tombak yang kemudian dinamai Kanjeng Kyai Pleret.
7. Tombak Kanjeng Kyai Baru Klinting
Pusaka ini juga berupa tombak bernama Kanjeng Kyai Baru Klinting. Tombak sakti ini pernah dipergunakan seorang abdi dalem kraton bernama Ki Nayadarma untuk menumpas pembrontakan yang dipimpin Adipati Pati Pragola.
Tombak ini merupakan titisan dari Naga Baru Klinting. Ki Ageng Mangir Wanabaya yang merupakan ayah Baru Klinting menghukum anaknya yang berwujud ular naga tersebut untuk melingkari Gunung Merapi.
Tinggal kurang sedikit lagi Baru Klinting berhasil melingkari Merapi. Agar dapat kepalanya dapat menyentuh ekor, Baru Klinting lalu menjulurkan lidahnya.
Hal itu tak disukai Ki Ageng Mangir Wanabaya dan mengangap anaknya telah berbuat curang. Ki Ageng Mangir Wanabaya lalu memotong lidah tersebut hingga kemudian menjadi sebuahn pusaka mata tombak.
KESIMPULAN TENTANG PUSAKA
Pusaka merupakan warisan budaya yang memiliki nilai historis, simbolis, dan spiritual yang tinggi bagi suatu masyarakat. Keberadaan pusaka tidak hanya mencerminkan identitas dan jati diri suatu bangsa atau daerah, tetapi juga menjadi penghubung antara generasi masa lalu, masa kini, dan masa yang akan datang. Pusaka mengandung nilai-nilai kearifan lokal, perjuangan, serta ajaran moral yang diwariskan melalui bentuk benda, tradisi, maupun cerita sejarah. Oleh karena itu, menjaga dan melestarikan pusaka bukan sekadar mempertahankan benda atau tradisi lama, melainkan juga merawat nilai-nilai luhur yang terkandung di dalamnya agar tetap hidup dan relevan dalam kehidupan masyarakat modern. Jika pusaka dipahami dan dihargai dengan baik, maka ia dapat menjadi sumber pembelajaran, inspirasi, dan penguat rasa cinta terhadap budaya dan sejarah bangsa.
