Penulis: Muhammad Faishol
Edited: Fahurrohman Alwaffa

Nasihat dan ceramah KH. Abdul Karim Nawawi dalam Acara Khotmil Quran dan Kutub banyak menekankan pentingnya membangun hubungan yang kuat dengan agama sejak dini. Beliau mengibaratkan seperti seorang anak kecil yang saat rambutnya dicukur kemudian dibawa keliling dan didepannya ada lilin sebagai isyarat kepada jalan hidayah agar perhatiannya terarah dan hatinya tenang. Pesan ini sederhana, tetapi dalam: manusia sejak awal perlu dikenalkan pada kebaikan dengan cara yang lembut, agar tumbuh rasa cinta, bukan rasa terpaksa.
Beliau juga mengutip dawuh Hasan Al-Bashri رحمه الله, “Wahai anak Adam, jagalah agamamu, karena agama itu adalah darah dan dagingmu.” Artinya, agama bukan sekadar pelengkap hidup, tapi inti dari diri manusia. Ketika seseorang terlalu sibuk dengan urusan dunia, terlalu banyak bergaul dengan hal-hal yang melalaikan, perlahan semangat untuk taat akan melemah. Bukan karena tidak mau beribadah, tetapi karena hati sudah terlalu penuh oleh selain Allah.
KH. Abdul Karim Nawawi mengingatkan bahwa meskipun pekerjaan, jabatan, dan profesi manusia terus berubah, agama tetap tidak berubah. Namun kenyataannya, di akhir zaman ini akhlak, nilai, adab, cara berpikir, bahkan cara memandang kebenaran ikut bergeser. Dalam situasi seperti ini, Al-Qur’an menjadi pegangan utama. Melalui Al-Qur’an, agama dipahami dengan benar dan dijaga dari penyimpangan.
Beliau menyampaikan sebuah pesan Nabi ﷺ,bahwa :
إذا أحب أحدكم أن يحدث ربه فليقرأ القرآن
“Jika diantara kalian suka untuk berbincang dengan Tuhannya, Maka bacalah Al-quran”
Membaca Al-Qur’an bukan hanya soal suara dan bacaan, tetapi menghadirkan hati di hadapan Allah. Karena itu, para penghafal Al-Qur’an bukan orang sembarangan. Mereka adalah orang-orang yang Allah pilih. Hafalnya Al-Qur’an bukan semata karena kecerdasan, tetapi karena ada kehendak dan pilihan dari Allah.
Beliau juga menyinggung hadis tentang kemuliaan umat Nabi ﷺ,:
أشراف أمتي حملة القرآن وأصحاب الليل
orang yang paling mulia adalah para pembawa Al-Qur’an dan orang-orang yang menghidupkan malam dengan ibadah. Bahkan ada riwayat yang menyebutkan bahwa:
ان الله لا يعذب قلبا وعى القران
“sesungguhnya Allah tidak akan mengazab hati yang benar-benar dipenuhi oleh Al-Qur’an”. Ini menunjukkan bahwa Al-Qur’an harus hidup dalam sikap dan perbuatan, bukan hanya di lisan.
Menurut beliau, menghafal Al-Qur’an sejatinya adalah perjuangan melawan diri sendiri. Rasa malas, bosan, dan lelah akan selalu ada. Namun seorang penghafal harus yakin bahwa yang sebenarnya menjaga Al-Qur’an adalah Allah, sementara manusia hanya diberi amanah untuk menjaganya. Jika seseorang hidupnya dekat dengan Al-Qur’an dan wafat dalam keadaan demikian, maka kelak ia akan dibangkitkan bersama Al-Qur’an.
Dalam penutup nasihatnya, KH. Abdul Karim Nawawi mengaitkan hal ini dengan tauhid. Mengenal Allah bisa ditempuh dengan akal yang sehat, dan kekuasaan Allah meliputi segala hal yang secara akal mungkin terjadi. Iman tidak bertentangan dengan logika, justru menguatkannya. Maka Al-Qur’an bukan hanya pedoman ibadah, tetapi juga cahaya dalam berpikir, bersikap, dan menjalani kehidupan.
Dan teruntuk para santri tetaplah menjadi santri walaupun kamu berada diluar Pondok Pesantren. Amalkanlah apa yang telah kamu pelajari di Pondok Pesantren. dan tetaplah berakhlak kepada kedua orang tua dan kepada orang yang kalian temui di rumah.
Semoga kita semua di istiqomahkan oleh Allah swt dalam kebaikan…Aamin ya rabbal Alamin
Wallahu ‘Alam bisshowab
