Penulis: KH.Abdul Karim Nawawi Editor: Fathurrohman Alwaffa

Aqiqah
Dalil Aqiqah
الْغُلَامُ مُرْتَهَنٌ بِعَقِيقَتِهِ تُذْبَحُ عَنْهُ يَوْمَ السَّابِعِ وَيُحْلَقُ رَأْسُهُ وَيُسَمَّى
“Setiap anak yang lahir terikat dengan aqiqahnya. Hewan aqiqah disembelih pada hari ketujuh kelahirannya, lalu rambut kepalanya dicukur, dan diberi nama.”
Diriwayatkan oleh Imam yang Lima dan disahihkan oleh At-Tirmidzi. Dalam hadis ini terdapat tiga sunnah: menyembelih aqiqah, mencukur rambut bayi, dan memberinya nama. Waktu paling utama adalah pada hari ketujuh.
Pengertian Aqiqah
- Bahasa: Rambut yang ada di kepala bayi saat lahir.
- Syariat: الذَّبِيحَةُ عَنْ الْمَوْلُودِ عِنْدَ حَلْقِ شَعْرِ رَأْسِهِ تَسْمِيَةً لِلشَّيْءِ بِاسْمِ مَاهِيَّتِهِ Sembelihan untuk bayi saat mencukur rambut kepalanya, dinamai aqiqah sebagai bentuk penamaan sesuatu dengan perantaranya.
Hikmah Aqiqah
- Melepas ikatan setan: قال المناوي على الخصائص: “إن العقيقة سبب لفكاكه من الشيطان الذي طعنه حال خروجه فهي تخليص له من حبس الشيطان له في أسره ومنعه له في سعيه في مصالح آخرته” Imam Al-Munawi berkata dalam kitab Al-Khasa’is: “Sesungguhnya aqiqah menjadi sebab terbebasnya anak dari setan yang menikamnya saat lahir. Aqiqah adalah pelepasan bayi dari tawanan setan yang menghambat usahanya dalam meraih kemaslahatan akhirat.”
- Bentuk rasa syukur: Wujud syukur atas karunia anak, menumbuhkan sifat dermawan, serta menghibur hati kerabat dan sahabat lewat santap bersama.
- Pelajaran kedermawanan: Rambut adalah mahkota mencukur lalu bersedekah seberat timbangannya melatih sifat dermawan.
- Simbol kemanusiaan: Menyembelih kambing menjadi simbol membuang sifat-sifat binatang buas maupun binatang ternak.
Hukum Aqiqah
Hukumnya Sunnah Muakkad (sangat dianjurkan) berdasarkan riwayat-riwayat yang ada.
Menurut mazhab Syafi’i, disunnahkan bagi orang yang wajib menanggung nafkah si bayi. Ibnu Suraqah menjelaskan urutan tingkatan darah sembelihan sunnah dari yang paling utama:
- Hadyu (sembelihan haji)
- Kurban
- Aqiqah
- Atirah (sembelihan bulan Rajab)
- Fara’ (anak pertama dari hewan ternak yang disembelih)
Catatan: Atirah dan Fara’ dimakruhkan dalam Islam berdasarkan hadis Shahih Bukhari: «لَا فَرَعَ وَلَا عَتِيرَةَ» (“Tidak ada Fara’ dan tidak ada Atirah”).
Jumlah Hewan Aqiqah Menurut mazhab Syafi’i dan Hanbali:
- Bayi laki-laki: 2 ekor kambing.
- Bayi perempuan: 1 ekor kambing.
Berdasarkan hadis Aisyah r.a.:
عَنْ الْغُلَامِ شَاتَانِ مُكَافِئَتَانِ، وَعَنْ الْجَارِيَةِ شَاةٌ “Untuk anak laki-laki dua ekor kambing yang sepadan, dan untuk anak perempuan satu ekor kambing.”
Hadis Ibnu Abbas (tentang Nabi menyembelih 1 ekor) dipahami sebagai batas kebolehan. Kesunnahannya sudah terwujud walau hanya dengan 1 ekor kambing untuk laki-laki maupun perempuan. Jika lahir kembar, wajib 2 aqiqah dan tidak cukup 1 kambing untuk keduanya.
Waktu Pelaksanaan
- Mulai berlaku: Sejak seluruh tubuh bayi keluar/lahir sempurna.
- Waktu paling utama: Hari ke-7 kelahiran.
- Catatan mazhab Syafi’i dan Hanbali: Jika disembelih sebelum atau sesudah hari ke-7 tetap sah. Disunnahkan menyembelih pada waktu dhuha hingga sebelum dzuhur, dan makruh pada malam hari.
Doa Saat Menyembelih Penyembelih membaca basmalah lalu mengucapkan:
اللَّهُمَّ مِنْك وَإِلَيْك عَقِيقَةُ فُلَانٍ “Ya Allah, ini dari-Mu dan untuk-Mu, aqiqah milik si [Nama Anak].”
Berdasarkan riwayat Aisyah r.a. bahwa Nabi SAW saat mengaqiqahi Hasan dan Husain bersabda:
«قُولُوا: بِسْمِ اللَّهِ، اللَّهُمَّ لَك وَإِلَيْك عَقِيقَةُ فُلَانٍ» “Katakanlah: Bismillah, Ya Allah, ini untuk-Mu dan kepada-Mu aqiqah si [Nama Anak].”
Hal-Hal yang Dimakruhkan Dimakruhkan melumuri kepala bayi dengan darah aqiqah seperti kebiasaan Jahiliyah. Aisyah r.a. berkata:
«كَانُوا فِي الْجَاهِلِيَّةِ يَجْعَلُونَ قُطْنَةً فِي دَمِ الْعَقِيقَةِ، وَيَجْعَلُونَهَا عَلَى رَأْسِ الْمَوْلُودِ، فَأَمَرَهُمْ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ يَجْعَلُوا مَكَانَ الدَّمِ خَلُوقًا»
“Dahulu pada masa Jahiliyah, mereka menempelkan kapas yang diberi darah aqiqah ke kepala bayi. Maka Nabi SAW memerintahkan agar mengganti darah tersebut dengan Khaluq (wewangian za’faran).”
Sebagaimana sabda Nabi SAW:
«مَعَ الْغُلَامِ عَقِيقَةٌ، فَأَهْرِيقُوا عَنْهُ دَمًا، وَأَمِيطُوا عَنْهُ الْأَذَى»
“Bersama anak laki-laki ada aqiqahnya, maka tumpahkanlah darah (sembelihlah) untuknya dan buanglah kotoran darinya.”
Hukum Daging Aqiqah Hukumnya sama seperti daging kurban: boleh dimakan, disedekahkan, dan haram dijual. Disunnahkan untuk dimasak terlebih dahulu.
Mazhab Syafi’i dan Hanbali menjelaskan: Disunnahkan memotong daging berdasarkan persendiannya tanpa mematahkan tulang sebagai tanda harapan (tafa’ul) agar anggota tubuh bayi sehat. Sebagaimana riwayat Aisyah r.a.:
«السُّنَّةُ شَاتَانِ مُكَافِئَتَانِ عَنْ الْغُلَامِ، وَعَنْ الْجَارِيَةِ شَاةٌ تُطْبَخُ جُدُولًا، وَلَا يُكْسَرُ عَظْمٌ، وَيَأْكُلُ وَيُطْعِمُ، وَيَتَصَدَّقُ، وَذَلِكَ يَوْمَ السَّابِعِ»
“Sunnahnya adalah dua ekor kambing yang sepadan untuk bayi laki-laki dan satu ekor untuk bayi perempuan, dimasak per sendi (tanpa mematahkan tulang), dimakan, dibagikan, dan disedekahkan pada hari ketujuh.”
Hal-Hal yang Berkaitan dengan Bayi
1. Memberi Nama
- Perintah: إِنَّكُمْ تُدْعَوْنَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِأَسْمَائِكُمْ وَأَسْمَاءِ آبَائِكُمْ فَحَسِّنُوا أَسْمَاءَكُمْ “Sesungguhnya kalian akan dipanggil pada hari kiamat dengan nama-nama kalian dan nama ayah kalian, maka perbaguslah nama kalian.”
- Nama Terbaik: أَحَبُّ الْأَسْمَاءِ إِلَى اللَّهِ عَبْدُ اللَّهِ وَعَبْدُ الرَّحْمَنِ “Nama yang paling dicintai Allah adalah Abdullah dan Abdurrahman.” (HR. Muslim) Urutan nama terbaik: Abdullah \Abdurrahman Nama yang diisbatkan dengan penghambaan kepada Asmaul Husna \ Muhammad \ Ahmad.
- Nama Dilarang/Haram: وَتَحْرُمُ التَّسْمِيَةُ بِعَبْدِ الْكَعْبَةِ أَوْ النَّارِ أَوْ بِعَبْدِ عَلِيٍّ أَوْ الْحَسَنِ لِإِيهَامِ التَّشْرِيكِ Haram memberi nama dengan Abdul Ka’bah, Abdun Naar, Abdul ‘Ali, atau Abdul Hasan karena memberi kesan syirik. Dilarang pula nama seperti Malikul Muluk (Raja para raja).
- Memberi Nama dengan Nama Nenek Moyang/Nabi: عَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «وُلِدَ لِي اللَّيْلَةَ غُلَامٌ فَسَمَّيْتُهُ بِاسْمِ أَبِي إِبْرَاهِيمَ» Dari Anas r.a., Rasulullah SAW bersabda: “Semalam telah lahir anak laki-laki bagiku, lalu aku memberinya nama seperti nama ayahku, Ibrahim.” (HR. Muslim)
- Keutamaan Nama Nabi: رُويَ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ: “إِذَا كَانَ يَوْمُ الْقِيَامَةِ نَادَى مُنَادٍ: أَلَا لِيَقُمْ مَنْ اسْمُهُ مُحَمَّدٌ فَلْيَدْخُلْ الْجَنَّةَ كَرَامَةً لِنَبِيِّهِ مُمَحَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ” Diriwayatkan dari Ibnu Abbas: “Pada hari kiamat penyeru memanggil: Hendaklah berdiri siapa saja yang namanya Muhammad lalu masuklah ke surga sebagai penghormatan kepada Nabi Muhammad SAW.”
2. Azan dan Iqamah
- Hadis Abu Rafi’: أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَذَّنَ فِي أُذُنِ الْحَسَنِ حِينَ وَلَدَتْهُ فَاطِمَةُ Bahwasanya Nabi SAW mengumandangkan azan di telinga Hasan saat dilahirkan oleh Fatimah.
- Keutamaan (Hadis Al-Hasan bin ‘Ali): «مَنْ وُلِدَ لَهُ مَوْلُودٌ فَأَذَّنَ فِي أُذُنِهِ الْيُمْنَى، وَأَقَامَ فِي الْيُسْرَى، لَمْ تَضُرَّهُ أُمُّ الصِّبْيَانِ» “Siapa yang dikaruniai anak lalu mengumandangkan azan di telinga kanannya dan iqamah di telinga kirinya, maka ia tidak akan dibahayakan oleh Ummu Shibyan (jin pengganggu anak).”
- Doa Tambahan: Disunnahkan membaca: إِنِّي أُعِيذُهَا بِكَ وَذُرِّيَّتَهَا مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ (“Aku memohon perlindungan untuknya dan keturunannya kepada-Mu dari setan yang terkutuk”) di telinga kanan serta membaca Surah Al-Ikhlas.
3. Tahnik
- Hadis Abu Musa r.a.: «وُلِدَ لِي ، فَأَتَيْتُ بِهِ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَسَمَّاهُ: إِبْرَاهِيمَ، وَحَنَّكَهُ بِتَمْرَةٍ» “Lahir bagiku seorang anak laki-laki, lalu aku membawanya kepada Nabi SAW. Beliau memberinya nama Ibrahim dan menahniknya dengan kurma.” (HR. Bukhari-Muslim)
4. Ucapan Selamat (Tahni’ah)
- Ucapan untuk Orang Tua: «بَارَكَ اللَّهُ لَكِ فِي الْمَوْهُوبِ لَكِ، وَشَكَرْتَ الْوَاهِبَ، وَبَلَغَ أَشُدَّهُ، وَرُزِقْتَ بِرَّهُ» “Semoga Allah memberkahimu atas anak yang dikaruniakan kepadamu, semoga engkau bersyukur kepada Sang Maha Pemberi, semoga anak ini tumbuh dewasa, dan engkau dikaruniai kebaikannya.”
- Jawaban Orang Tua: «بَارَكَ اللَّهُ لَكَ، وَبَارَكَ عَلَيْكَ» أَوْ «أَجْزَلَ اللَّهُ ثَوَابَكَ» “Semoga Allah memberkahimu dan melimpahkan keberkahan atasmu” atau “Semoga Allah melipatgandakan pahalamu.”
5. Mencukur Rambut dan Sedekah Disunnahkan mencukur habis rambut kepala bayi pada hari ke-7. Berdasarkan sabda Nabi SAW kepada Fatimah r.a.:
«زِنِي شَعْرَ الْحُسَيْنِ، وَتَصَدَّقِي بِوَزْنِهِ فِضَّةً» “Timbanglah rambut Husain, dan bersedekahlah perak seberat timbangannya.”
Wallahu A’lam Bishowab
